Setelah mereka selesai makan, Lynx dan Jelita berjalan ke kasir untuk membayar. Namun, kasir di balik meja hanya tersenyum dan berkata, "Nyonya Chen Xue telah menginstruksikan bahwa hidangan ini gratis, sebagai permintaan maaf atas kejadian sebelumnya."

Jelita terkejut. "Benarkah?"

"Sampaikan rasa terimakasih kami kepada Nyonya Chen." kata Lynx dengan tulus. Dia merasa kagum sekaligus penasaran dengan pemilik rumah makan ini. Mereka tidak saling mengenal, namun dengan mudahnya pemilik rumah makan memberikan makanan secara gratis dan memberikan bonus hidangan tambahan.

"Tidak ada makan gratis di dunia ini, apakah ada sesuatu dibalik ini semua?" batin Lynx dengan tetap menyimpan rasa curiganya.

Sebelum pergi, Lynx mengeluarkan beberapa koin emas. Ia kemudian memanggil pelayan pria yang sebelumnya melayani mereka dengan baik.

"Ini untukmu," katanya santai.

Pelayan pria itu terkejut. "Tuan, ini… terlalu banyak…"

Lynx tersenyum tipis. "Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih atas pelayanan yang baik."

Pelayan itu menatap Lynx beberapa saat sebelum akhirnya membungkuk dalam. "Terima kasih banyak, Tuan! Saya sangat menghargainya!"

Lynx hanya mengangguk dan berbalik pergi bersama Jelita. Saat mereka berjalan keluar, ia bertanya pada pelayan itu.

"Apakah ada penginapan bagus di kota ini?"

Pelayan pria itu segera menjawab, "Tuan, jika Anda mencari yang terbaik, Penginapan Bulan Perak adalah yang paling terkenal di kota ini. Pelayanannya luar biasa, keamanannya tinggi, dan tamu-tamu yang menginap di sana kebanyakan dari kalangan terhormat."

Lynx mengangguk. "Baik, terima kasih atas sarannya."

Dengan begitu, Lynx dan Jelita pun melangkah keluar dari Paviliun Seribu Rasa, menuju penginapan terbaik di kota Houling, sementara dari lantai atas, sepasang mata mengamati mereka dalam diam.

Lynx dan Jelita berjalan santai di sepanjang jalan utama Kota Houling. Kota ini tidak terlalu besar, tetapi cukup ramai dengan banyak pedagang yang menjajakan berbagai barang, mulai dari makanan, rempah-rempah, hingga perlengkapan sehari-hari. Bangunan-bangunannya sebagian besar terbuat dari batu dan kayu, menciptakan nuansa yang khas dengan suasana pasar yang hidup.

Jelita tampak antusias melihat-lihat dagangan di sepanjang jalan, terutama aksesoris dan kain sutra berwarna-warni yang dipajang oleh para pedagang. Lynx, yang lebih tenang, hanya mengikuti sambil menikmati pemandangan.

“Kota ini lebih besar dari yang aku kira,” kata Jelita sambil menoleh ke sekeliling. “Aku tidak menyangka ada tempat dengan manusia sebanyak ini.”

Jelita berjalan mengikuti Lynx, di tangannya terlihat memegang sebuah permen dan sesekali dia memasukkan ke mulutnya, menikmati sensasi rasa manis yang belum pernah dia rasakan.

Lynx mengangguk. "Karena letaknya di jalur perdagangan, banyak orang yang datang dan pergi. Ini juga tempat yang bagus untuk mendapatkan informasi."

"Hei, pencuri!" Suara serak seorang pria tua tiba-tiba menggema di belakang mereka.

Jelita menoleh dan melihat seorang anak berusia belasan tahun berlari menerobos keramaian.

"Nona, anak itu mencuri barangmu," ujar pria tua itu dengan nada kesal.

Refleks, Jelita meraba kantung di pinggangnya. Wajahnya berubah ketika menyadari kantung berisi makanan ringan yang dibelikan Lynx tadi telah hilang.

"Kantungku... Xiao Lin, anak itu mengambilnya."

"Biarkan saja, nanti kita bisa membeli lagi," kata Lynx santai. Ia sebenarnya sudah menyadari gerak-gerik mencurigakan anak itu sebelum mencuri kantung Jelita.

Melihat Jelita tidak terlalu mempermasalahkan barangnya yang dicuri, pria tua itu hanya mendengus dan pergi. "Huh, sia-sia saja aku memberitahu. Rupanya mereka tak peduli," gumamnya kesal.

Namun, Lynx merasa penasaran. Ia ingin melihat ekspresi anak itu saat mengetahui isi kantung yang telah dicurinya.

"Yun Qing, pegang ini. Ada sesuatu yang harus kulakukan," ujar Lynx sambil menyodorkan selembar kertas formasi yang dibuatnya dengan cepat—sama seperti yang pernah ia berikan pada Jelita saat di Hutan Fengling.

Mata Jelita berbinar penuh kegembiraan. Dia mengenali fungsi dari kertas formasi tersebut. Dengan kertas tersebut, dia tidak perlu takut kehilangan Lynx dan selalu tahu posisinya. Namun, sebelum sempat mengatakan apa pun, Lynx sudah menghilang di tengah kerumunan.

Langit sore masih bersih, matahari menggantung rendah, mewarnai kota dengan cahaya keemasan. Selama berada di kota, Lynx sebisa mungkin menyembunyikan kekuatannya agar tidak menimbulkan masalah. Tetapi, sejak tadi ia sudah menandai anak itu dengan energinya, jadi tak perlu khawatir kehilangan jejak. Begitu sampai di area yang lebih sepi, Lynx melesat cepat dan dalam sekejap, ia sudah berada di sebuah tempat, dekat anak tersebut.

Sembunyi di sudut, Lynx mengamati dengan diam-diam. Ia ingin melihat reaksi anak itu saat mengetahui isi kantung yang dicurinya hanyalah permen-permen yang dibeli Jelita dipasar. Karena rasanya yang manis, Jelita meminta Lynx membelikan berbagai aneka permen, sesuatu rasa yang baru dirasakannya.

Anak itu berhenti di depan sebuah rumah terbengkalai. Lynx memperhatikan punggung seorang wanita muda berpakaian khas kultivator—seragam putih bersih dengan hiasan sulaman perak di bagian lengan dan bahu, memperlihatkan statusnya sebagai murid dari sebuah sekte besar. Rambutnya panjang dan terikat rapi dengan hiasan giok, menyatu dengan angin sore yang berembus lembut. Sebuah pedang ramping tergantung di pinggangnya, sarung pedangnya dihiasi ukiran naga halus yang menunjukkan kelihaiannya dalam seni pedang.

Wanita itu tengah mencengkeram lengan si anak yang tampak berusaha melepaskan diri.

"Lepaskan aku!" seru anak itu, meronta dengan panik.

"Kembalikan barang-barang yang kau curi dari orang-orang," ujar wanita itu tegas, suaranya dingin namun penuh wibawa.

Anak itu terdiam sejenak, menatap wanita itu dengan mata takut.

"Aku tidak suka berurusan dengan pencuri," lanjut wanita itu. "Tapi jika kau terus seperti ini, nasibmu tidak akan berakhir baik. Ingatlah itu."

Ia melepaskan genggamannya dengan sedikit dorongan, membuat anak itu tersungkur ke tanah. Anak itu dengan cepat bangkit dan berlari tanpa menoleh ke belakang.

Lynx membelalak. Bukan karena anak itu ternyata telah mencuri dari banyak orang, melainkan karena ia mengenali suara itu, suara yang telah lama ia rindukan.

"Leena..." bisiknya, suara bergetar.

Wanita itu menoleh. Tatapannya penuh tanda tanya saat melihat seorang pemuda berdiri tak jauh darinya. Lynx menatapnya tanpa berkedip, langkahnya gemetar saat mendekat.

"Leena, akhirnya aku menemukanmu," ucapnya dengan suara lirih, namun penuh emosi.

Wanita itu mengernyit. "Siapa kau?"

Lynx tertegun. "Aku Lynx... Apa kau tidak mengenaliku lagi?"

Ia semakin mendekat, ingin memastikan ini bukan hanya ilusinya, ingin memeluknya, memastikan bahwa ini nyata. Namun, dalam sekejap, pedang wanita itu sudah terhunus.

"Jangan mendekat! Aku tidak mengenalmu," katanya waspada.

Lynx terpaku. "Leena, jangan bercanda... Aku sangat merindukanmu. Aku sudah mencarimu selama ini."

Mata wanita itu tetap dingin. "Aku tidak tahu siapa kau. Pergilah."

"Leena... tidak mungkin kau melupakanku. Kau benar-benar tidak ingat? Kita pernah..."

"Aku tidak punya waktu untuk mendengar omong kosong," potong wanita itu. "Dan jika kau terus mendekat, aku tidak akan ragu untuk menyerang."

Lynx terdiam. Kata-katanya tersangkut di tenggorokan, matanya mencari-cari sesuatu dalam ekspresi wanita itu, sesuatu yang bisa membuktikan bahwa ia masih mengenalnya.

Namun, sebelum ia sempat mengatakan apa pun lagi, wanita itu berbalik. Dengan satu gerakan ringan, ia menjejak tanah dengan ujung kaki, tubuhnya melayang dengan anggun. Jubahnya berkibar seiring dengan gerakannya, tubuhnya seakan tak berbobot saat ia melesat ke atap rumah tanpa suara, lalu melompat lagi ke bangunan berikutnya. Setiap langkahnya terasa ringan, seperti angin yang meluncur di antara dedaunan—sebuah bukti kemahirannya dalam ilmu meringankan tubuh.

Lynx tetap berdiri kaku di tempatnya, menatap kepergiannya dengan tatapan kosong.

Pikirannya penuh pertanyaan yang berputar-putar tanpa jawaban.

"Leena... ke mana dia? Apa dia benar-benar tidak mengenaliku? Apa aku salah orang? Atau dia sengaja berpura-pura?"

Ia menggertakkan giginya, frustrasi. Seharusnya tadi ia meninggalkan jejak pada wanita itu, agar bisa menemukannya lagi nanti. Tapi karena terlalu terkejut dan senang, ia melupakan segalanya.

"Tiga tahun... Tak mungkin dalam waktu sesingkat itu dia bisa menjadi sekuat ini..." pikirnya, mengingat bagaimana wanita itu tadi menggunakan ilmu meringankan tubuh dengan begitu ahli.

